Saya pernah mengalami sebuah kejadian tidak mengenakan. Saya marah – marah kepada seseorang. Kategori marahnya mendekati merusak karena diikuti dengan gerakan memukul. Saya benar – benar kesal dan merasakan hanya bisa terpuaskan dengan memukul.
Entah kenapa saya begitu ngototnya memukul. Seperti muncul energi yang begitu besar dan tidak bisa dikendalikan. Cara melampiaskannya hanya dengan memukul.
Saya menyesal setelahnya.
Mengapa saya bisa sedemikian bernafsu gila untuk memukul seperti itu.
Saya lalu merenung tahapan kejadian itu.
Pertama saya menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Itu masih bisa saya tahan.
Lalu, lawan bicara saya melakukan gerakan menutup mulut saya dari belakang. Sesaat itu sumbu emosi saya langsung seperti dinyalakan. Dengan refleks saya memukul lawan bicara saya yang sedang berada di belakang.
Sepertinya hal itu yang membuat saya menjadi hilang kontrol.
Saya seperti diserang dari belakang.
Mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.
Respon saya adalah melawan (fight).
Saat dalam perenungan, saya menyadari bahwa ketika seseorang marah, menjerit, memukul, merusak barang atau berkata – kata memaki, itu adalah bagian respon perlawanan terhadap sesuatu yang mengancamnya.
Respon perlawanan (fight) ini bukan hanya milik orang dewasa atau anak – anak. Tidak pula milik pria atau wanita. Tetapi milik manusia.
Respon perlawanan ini muncul ketika saya dalam bahaya. Dan rupanya bahaya yang memancing respon perlawanan ternyata bukan terbatas pada bahaya yang mengancam jiwa. Bahaya yang mendekatkan pada seorang manusia pada kematian.
Perlawanan juga bisa muncul ketika muncul bahaya yang mengancam pada harga diri seseorang. Muncul juga perlawanan ketika sumber kebanggaannya diserang. Bisa jadi ketika sumber penghidupannya terancam. Hingga buah pemikiran yang ditanggapi pun bisa jadi dianggap sebagai serangan. Itu bisa jadi alasan untuk memunculkan perlawanan kepada lawan bicara.
Manifestasi bentuk perlawanan ini bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari hari.
Orang tua yang mengamuk ketika anaknya kalah bersaing dengan teman sekelasnya. Ini disebabkan karena anak adalah sumber kebanggaannya. Jadi ketika anaknya kalah lomba, kalah nilai, kalah cepat atau kalah yang lain dibanding teman sekelasnya, itu memancing kemarahan orangtua. Anak yang kalah menyebabkan orang tua tidak bisa lagi membanggakan pencapaian anaknya.
Saat terjadi kemacetan di persimpangan jalan, setiap orang pasti merasa dirinya yang paling benar. Semakin tinggi volume suara, semakin ngotot mempertahankan pendapat jadi formula yang pertama kali digunakan untuk mempertahankan pendapat. Jangan sampai kalah argumen karena perdebatan adalah bentuk serangan terhadap harga diri. Tak ada yang mau dianggap salah dan menjadi penyebab kemacetan di jalan raya.
Masih banyak kejadian lain yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari hari.
Jadi kalau suatu hari nanti, anda bisa tiba – tiba berubah mood dari santai menjadi marah menggebu, seperti ingin melahap bahkan menghancurkan berkeping – keping lawan bicara anda, cobalah waspada, mungkin anda sedang mengalami serangan kepanikan karena anda kewalahan menghadapi serangan dari lawan bicara anda. Kepanikan yang terjadi karena ada sisi diri anda yang merasa diserang dan mengganggu keamanan diri.
Semoga dengan sikap waspada ini, anda terhindar dari hal merusak yang mungkin saja dapat anda lakukan saat anda dalam kondisi marah.
Begitu pula kalau anda lihat lawan bicara anda tetiba marah, dongkol, muka cemberut, diam dan menarik diri, mungkin saja ada yang anda lakukan atau anda kerjakan yang menyerang sisi aman dirinya.
Bisa saja dia tidak berani melawan karena anda punya kuasa lebih besar dari dirinya. Bisa saja dia masih tergantung dengan anda.
Tapi dalamnya hati, siapa yang tahu.